Bali's first Non-Profit Social Enterprise for relycling of used Cooking Oil into high quality Biodiesel

Latest News

Latest News

Green School Bio Bus

The mission of the Bio Bus Social Enterprise is to provide sustainable transport services to the Green School students and community, to engage with the broader community by offering solutions to health and waste problems around used cooking oil, and to deliver real world and integrated learning to the youth.

Stasiun Biodiesel Pertama Indonesia

Sebuah sekolah berbasis alam di Bali mengembangkan teknologi bahan bakar ramah lingkungan Biodiesel. Mereka telah meresmikan Stasiun Biodiesel Pertama di Indonesia.

Ikuti berita dengan kemasan internasional berbahasa Indonesia di www.cnnindonesia.com dan channel CNN Indonesia di Transvision.

NET. BALI – JELANTAH BIODIESEL

Sebuah lembaga di denpasar bali yang bernama lengis hijau, berhasil mengubah minyak bekas atau minyak jelantah menjadi bahan bakar alternatif biodiesel. Biodiesel ini kini sudah mulai dipergunakan di hotel hotel sebagai pembangkit listrik dan pemanas. Bagaimana proses pembuatannya, berikut liputannya.

How used cooking oil powers a school bus in Bali | Kyla Langostky and Maxwell Hidajat | TEDxUbud

Used cooking oil is a major problem in Bali. The Bio Bus team has found a way to make this a thing of the past. Providing more than 1,800 biodiesel-fueled rides, the Bio Bus saves 3 tons of carbon dioxide from being released into the atmosphere every month. And the best part of it? This is a 100% student run social enterprise! Learn how students stepped out of the classroom and into the ‘real world’, allowing them to create change with a tangible impact. Take the young bright minds of Bio Bus Team members such as Maxwell and Kyla, and the Green School Bali, committed to social responsibility and ecological sustainability, and presto, things get rolling. Via biodiesel that is. These two high school students tell us about the Bio Bus initiative: from cooking oil to fuel, from fuel to soap, and providing employment for locals. The Bio Bus Team, invited to France to attend COP21 (The 2015 Paris Climate Conference), and COY11 (the Conference of Youth), garnered international attention for their work in Bali. Maxwell is the Bio Bus Web and App Developer. Kyla is the GS Bio Bus Social Media and Outreach Coordinator. Both love their work with the Bio Bus project because they are “setting a green example.”

Our News

1.  First Biodiesel Plant in Bali, Indonesia, Undergoes Commisioning
http://www.biodieselmagazine.com/articles/8924/first-biodiesel-plant-in-bali-indonesia-undergoes-commissioning

2. First Biodiesel Plant starts operation, The Jakarta Post
http://www.thejakartapost.com/bali-daily/2013-02-01/first-biodiesel-plant-starts-operation.html

3. The Problem Of Used Cooking Oil Disposal Caritas Switzerland turns Bali’s used cooking oil into Biodiesel
http://www.baliadvertiser.biz/articles/feature/2012/cooking_oil.html

4. Cooking Oil Recycling to Commence Soon
http://www.thejakartapost.com/bali-daily/2012-12-14/cooking-oil-recycling-project-commence-soon.html

5. High hopes for cooking oil recycling project
http://www.thejakartapost.com/bali-daily/2012-08-01/high-hopes-cooking-oil-recycling-project.html

6. Recycling project turns used cooking oil into biodiesel
http://www.thejakartapost.com/bali-daily/2012-07-27/recycling-project-turns-used-cooking-oil-biodiesel.html

7. Caritas, Bali
http://greenfuels.co.uk/case-studies/caritas-biodiesel/

8. Used Cooking Oil Recycling
http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2013/04/26/mendaur-ulang-limbah-minyak-jelantah.html

Kementerian ESDM Gelar Malam Penganugerahan Penghargaan Subroto 2017

Jakarta, Dalam rangkaian Hari Jadi Pertambangan dan Energi Ke-72, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar Malam Penganugerahan Penghargaan Subroto 2017. Perhelatan ini dibuka oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan di XXI Ballroom, Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (28/9).

Jonan mengatakan, pihaknya akan membiasakan diadakannya penghargaan bagi pejuang energi di Indonesia. “Penghargaan dimulai tahun ini dan akan diadakan terus, ” ujarnya.

Penghargaan Subroto 2017 merupakan perhelatan pertama yang mempertemukan semua penghargaan energi di lingkungan Kementerian ESDM, yang sebelumnya diselenggarakan secara terpisah. Beberapa penghargaan energi tersebut yakni Penghargaan Efisiensi Energi Nasional (PEEN), Penghargaan Pengelolaan Bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Serta Lindungan Lingkungan (K3LL) Panas Bumi, Penghargaan Wartawan Energi, Penghargaan Keselamatan Migas, dan Penghargaan Energi (PE).

Tercatat sebanyak 34 perusahaan/instansi penerima PEEN dengan 9 pemenang kategori bangunan gedung hemat energi antara lain Sinarmasland, Gedung Paza Summarecon Agung, Gedung Mina Bahari IV KKP, dan Kantor Dusaspun Gunung Putri; 16 pemenang kategori manajemen energi pada industri dan bangunan gedung antara lain PT Graha Niaga Tata Utama, Gedung IGD RSUP Cipto Mangunkusumo, Gedung B2TKE BPPT, PT Cheil Jedang Pasuruan, Terminal BBM Rewulu Pertamina HO, dan Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Lt; dan 9 pemenang kategori penghematan energi di pemerintah antara lain Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Pemda Provinsi Jawa Tengah.

Sementara itu penerima penghargaan K3LL Panas Bumi sebanyak 24 perusahaan. Mereka antara lain Star Energy Geothermal Salak, Ltd sebagai peraih aditama dengan nilai tertinggi untuk penghargaan Pengelolaan Bidang K3 pada Area Geothermal (Berproduksi) dan penghargaan Pengelolaan Bidang Lindungan Lingkungan pada Area Geothermal (Berproduksi), PT Supreme Energy Muara Laboh sebagai peraih aditama dengan nilai tertinggi untuk penghargaan Pengelolaan Bidang K3 pada Proyek Geothermal (Belum Berproduksi), dan PT Pertamina Geothermal Energy Proyek Lumut Balai sebagai salah satu peraih Penghargaan Pengelolaan Bidang Lindungan Lingkungan pada Proyek Geothermal (Belum Berproduksi).

Bidang wartawan energi, penghargaan jatuh kepada Gholib sebagai juara I foto umum, Muhamad Mubarak Aziz sebagai juara I foto Instagram, Arif Koes Hernawan untuk kategori karya tulis jurnalistik.

Untuk bidang keselamatan minyak dan gas bumi penghargaan jatuh kepada PetroChina International Jabung, Ltd.

Penghargaan Subroto untuk bidang inovasi energi (PE) kategori perorangan diberikan kepada Harianto, kelompok masyarakat kepada Yayasan Lengis Hijau, industri kepada PT Great Giant Pineaple, sedangkan kategori pemerintah daerah dianugerahkan kepada Dinas ESDM Provinsi Bangka Belitung.

Penamaan Subroto sendiri merupakan penghargaan kepada Bapak Subroto, Menteri Pertambangan dan Energi pada kurun waktu 1978-1988, sebagai salah satu tokoh yang memajukan sektor energi di Indonesia dan teladan dalam kepemimpinan bagi generasi penerus. (RWS)

Sumber : ESDM

Pengemudi Bus Di Bali Jadikan Minyak Goreng Bekas Sebagai Bahan Bakar Bus Sekolah

Seorang pengemudi bus sekolah bernama Made Gusta menjadi pelopor proyek Bio Bus Green School di Bali. Sekolah ini sukses mengoperasikan tiga kendaraan bus sekolahnya dengan berbahan bakar biodiesel yang menggunakan minyak goreng bekas sebagai bahan bakarnya.

“Saat saya hidupkan mesin bus, saya cium bau ayam goreng,” kenangnya. “Dan saya teriak, ‘siapa yang makan di bus?’”

Sambil tertawa dia mengatakan, “Itu kali pertama saya percaya kalau bus ini bisa jalan karena minyak goreng.”, seperti dilansir dari laman good news from indonesia.

Para siswa lulusan Green School memprakarsai gagasan tersebut pada tahun 2015, didorong oleh tantangan untuk menurunkan emisi karbon dan menghijaukan sistem transportasi di Bali.

“Ada begitu banyak siswa yang membawa mobil dan tidak ada lahan parkir yang cukup. Sementara, jejak emisi karbon dari mobil-mobil ini cukup besar,” kata Sofi Le Berre, Anggota Tim Bus Bio Green School kepada Our Better World, program kisah inspiratif dari Singapore International Foundation.

Para siswa juga melihat bahwa terdapat masalah mengenai minyak goreng bekas di Bali.

Made menggungkapkan, “Minyak yang sudah terpakai belasan kali, bahkan puluhan kali, masih bisa dijual lagi. Dan banyak orang yang tidak bertanggung jawab, mereka jernihkan lagi dengan formalin atau bahan kimia seperti pembersih kolam.”

“Hal ini berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan,” kata Sofi.

Para siswa Green School tergugah untuk mencari solusi atas masalah tersebut. Mereka bekerja sama dengan Yayasan Lengis Hijau, sebuah lembaga swadaya masyarakat lokal yang fokus pada aktivitas pengumpulan dan produksi biodiesel.

Bersama dengan yayasan tersebut, mereka mengedukasi hotel dan restoran mengenai bahaya penggunaan minyak goreng bekas di dapur.

Mereka juga mendorong pihak hotel dan restoran untuk menyumbangkan minyak goreng bekas mereka untuk didaur ulang menjadi biodiesel. Sebagai bonus tambahan, gliserin, produk sampingan dari proses daur ulang ini diubah menjadi sabun.

Saat ini, Green School memiliki stasiun pengisian bahan bakar biodiesel untuk umum pertama di Bali. Mereka juga memiliki 3 bus sekolah yang beroperasi dengan biodiesel.

Kini, mereka memiliki mimpi yang lebih besar untuk mengubah Bali menjadi lebih baik. Mereka berharap seluruh pengemudi di Bali dapat beralih menggunakan biodiesel.

Made mengatakan dengan optimis, “Saya rasa semua orang pasti ingin Bali itu lebih maju, tetapi tetap indah, tetap bagus dan tetap sehat.”

Source : Mobil Komersial